Seminar Jurnalistik, The Power of Writing, Satu Goresan Sejuta Perubahan.

By Administrator 09 May 2018, 00:00:00 WIB Artikel Ilmiah
Seminar Jurnalistik, The Power of Writing, Satu Goresan Sejuta Perubahan.

Pada hari Rabu tanggal 9 Mei 2018, SEMA STAIHA Bawean mengadakan seminar jurnalistik. Kepanitiaan seminar ini dibawa binaan Ibu Eklis Dinika, M.Pd.I. Acara tersebut berlangsung dengan semarak. Para dosen dan mahasiswa berantusias untuk menghadiri acara seminar tersebut. Rangkaian acara dimulai dengan kegiatan penjemputan pemateri di Bandara Harun Thohir Kecamatan Tambak. Setelah itu, pemateri bersama panitia seminar meneruskan perjalanan mengitari Pulau Bawean melintas ke arah timur jalan lingkar Pulau Bawean. Pengitaran ini membuat pemateri DR. Aguk Irawan, MN. merasa terkesan dan terinspirasi untuk menulis tentang Bawean.


‘’Jikalau tidak ada mahasiswa yang mau menulis tentang Bawean maka saya yang akan menulisnya”,  tantangnya kepada para mahasiswa STAIHA Bawean. Beliau memotivasi kalangan mahasiswa dan dosen untuk selalu menulis. Beliau meyakini bahwa dari tangan kreatif para mahasiswa STAIHA Bawean akan melahirkan sebuah karya luhur. Semua peserta terkesima  mendengarkan penuturan beliau saat menyampaikan materi yang berkenaan dengan kejurnalislistikan.


Meski terkendala persoalan nonteknis yakni terceburnya HP beliau ke dalam sebuah kolam yang mengakibatkan materi tak tersampaikan via LCD proyektor namun tetap saja pemaparan beliau sangat memukau. Beliau menjelaskan betapa pentingnya makna sebuah tulisan. Hanya dengan sebuah goresan akan mampu melahirkan sejuta perubahan yang akan menjadi sejarah.


Di saat sesi tanya jawab, para mahasiswa sangat berantusias dalam melontarkan beberapa pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang menggelitik dan mendapat respon tajam dari pemateri terlontar dari salah seorang mahasiswa dengan pertanyaan "Bagaimana cara agar istikamah dalam menulis? ". Dengan tangkas pula pemateri  mengutarakan jawaban mengenai beberapa cara. Salah satunya, bahwa menulis sebagai tanggung jawab dan juga sebagai sarana "melampiaskan" berbagai perasaan, termasuk perasaan sedih sekalipun.  Menurut pandangan beliau seseorang akan lebih mudah menulis di saat perasaan sedih itu menggelayut. Sampai-sampai beliau menulis novel yang berjudul "Lukai Aku Sekali Lagi".

Akhir kegiatan tersebut diiringi dengan penampilan sholawatan dari Penaber sebagai bentuk jalinan kekeluargaan sesama pondok pesantren yang ada di Pulau Bawean. Keakraban ini tentunya
sebagai bukti bahwa Pulau Bawean sudah memiliki seni bernuansa kearifan lokal yang mampu menghibur khalayak ramai.


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook