IKUTI PROTOKOL KESEHATAN, STAIHA KEMBALI ADAKAN PERKULAHAN TATAP MUKA

By Administrator 14 Oct 2020, 00:00:00 WIB Berita
IKUTI PROTOKOL KESEHATAN, STAIHA KEMBALI ADAKAN PERKULAHAN TATAP MUKA

Sejak pandemi covid-19 melanda tanah air, seluruh pendidikan dari tingkat bawah sampai perguruan tinggi tidak memberlakukan pendidikan tatap muka, namun diganti dengan pendidikan daring, tak terkecuali STAIHA yang merupakan salah satu perguruan tinggi di Bawean. Sejak pertengahan semester genap tahun akademik 2019-2020, STAIHA memberlakukan perkuliahan secara daring dengan memanfaatkan tehnologi yang ada, seperti: zoom meeting, google classroom, Group WhatsApp, dan sebagainya.

Pada awal perkuliahan semester ganjil tahun akademik 2020-2021, STAIHA memutuskan untuk kembali memberlakukan perkuliahan tatap muka, meskipun dengan cara bergantian antar prodi untuk menghindari adanya kerumunan massa dan tetap mengikuti protokol kesehatan, dimulai dari Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Namun, setelah berjalan selama satu minggu, beredar kabar mengejutkan bahwa di Bawean terdapat pasien covid-19. Seketika itu juga seluruh lembaga pendidikan yang mengadakan tatap muka, termasuk STAIHA, kembali mengosongkan kampus dan melakukan perkuliahan daring untuk menghindari terjadinya penyebaran covid-19. Satu bulan lebih berjalan, kini STAIHA kembali memutuskan untuk mengadakan perkuliahan tatap muka dengan bergantian antar prodi, dimulai dari prodi Hukum Ekonomi Syariah (HESy) dan Hukum Keluarga Islam (HKI). Prodi yang lain tetap dilakukan perkuliahan secara daring. Pekan berikutnya giliran Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mengadakan perkualiahan tatap muka di kampus, sedangkan prodi yang lain dilakukan secara daring. Meskipun mengadakan perkuliahan tatap muka, namun STAIHA tetap mengikuti protokol kesehatan, yaitu perkuliahan tatap muka hanya dibatasi satu prodi saja dalam satu pekan, kecuali Prodi HESy dan HKI yang melakukan tatap muka pada pekan yang sama, kelas yang memiliki jumlah mahasiswa cukup banyak menggunakan ruangan yang besar, yaitu auditorium, dan mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tatap muka di kampus wajib melakukan tes suhu terlebih dahulu, mencuci tangan dengan sabun, dan menggunakan handsanitizer.

Perkuliahan daring, tentunya, tidak semaksimal tatap muka. Banyak kendala yang dihadapi dosen dan mahasiswa. Ada yang mengeluh sulit mendapatkan sinyal karena tidak semua daerah di Bawean terdapat sinyal telefon atau internet, ada yang mengeluh kehabisan kuota internet karena terlalu banyak menggunakan aplikasi zoom meeting yang banyak menguras kuota internet, ada yang mengeluh kesulitan memahami materi yang disampaikan, dan sebagainya. Namun demikian, perkuliahan tetap berjalan. Meskipun banyak rintangan, namun masih bisa berusaha dengan cara lain. Ada yang mengatakan: "ma la yudraku kuluhu la yutraku kulluhu." (apa yang tidak bisa didapatkan secara keseluruhan, maka jangan ditinggalkan secara keseluruhan).


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook