Gandeng STAIHA Bawean, Tim Peneliti Universitas Indonesia adakan Penelitian tentang Diaspora Bawean

By Administrator 29 Oct 2020, 00:00:00 WIB Berita
Gandeng STAIHA Bawean, Tim Peneliti Universitas Indonesia adakan Penelitian tentang Diaspora Bawean

Bawean, 29 Oktober 2020, STAIHA kembali kedatangan tamu istimewa dari kampus ternama di Indonesia, yaitu TIM Peneliti dari Departemen Sejarah, Universitas Indonesia. TIM peneliti yang dikomando oleh Dr. Abdurrakhman, M.Hum dan Yon Machmudi, PhD beserta rombongan akan mengadakan penelitian terkait diaspora Bawean yang merupakan salah satu tradisi masyarakat Bawean sejak awal abad ke-18.

Sebelumnya , pada tanggal 21 Oktober 2020, mereka mengadakan FGD (Focus Group Discussion) bersama 3 narasumber dari STAIHA, yaitu; Dr. Ali Asyhar, M.MPd., Dr. Abdul Hafidz, Lc., M.E.I, dan Ainun Barakah, M.H.I. FGD ini diharapakan agar mereka mendapatkan data awal mengenai diapsora Bawean sebelum berkunjung ke Bawean. Selanjutnya mereka akan mengadakan penelitian ke beberapa negara tujuan diaspora Bawean, seperti Malaysia dan Singapura untuk melakukan penelitian lebih dalam.

TIM Peneliti tersebut melakukan penelitian di Bawean selama 3 hari. Di hari pertama, mengadakan seminar di kampus STAIHA dengan tema "Menapaki Jejak Diaspora Bawean" yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa STAIHA. Acara tersebut diselenggarakan di auditorium STAIHA lantai 4. Ketua STAIHA, Dr. Ali Asyhar, M.MPd, menyampaikan sambutannya dengan memperkenalkan TIM satu persatu. Dr. Abdurrakhman, M.Hum, Ketua Departemen Sejarah Universitas Indonesia, menyampaikan bahwa UI siap untuk membuka peluang jika ada mahasiswa STAIHA yang akan melanjutkan pendidikan magister ke UI. Sedangkan Yon Machmudi, PhD, sebagai ketua TIM menyampaikan bahwa STAIHA perlu mendirikan pusat referensi tentang Bawean, sehingga jika ada peneliti dari manapun yang ingin meneliti tentang Bawean, bisa merujuk ke lembaga tersebut. Baharuddin, MM., mantan Ketua STAIHA, menegaskan bahwa masyarakat Bawean yang berdiaspora di luar negeri memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan suku lainnya, bahkan dari suku Madura sekalipun yang secara bahasa hampir sama dengan Bawean. Ia juga menegaskan bahwa masyarakat Bawean di Malaysia dan Singapura dikenal dengan sebutan Boyan.

Dalam pertemuan tersebut, Yon Machmudi sempat melemparkan beberapa pertanyaan kepada mahasiswa. di antaranya; adakah mahasiswa yang memiliki keluarga di rantau atau di luar negeri?. Seluruh mahasiswa menjawab bahwa mereka mempunyai keluarga di luar negeri. pertanyaan berikutnya, adakah di antara mereka yang ingin merantau mengikuti keluarganya?. ada beberapa mahasiswa yang mengacungkan tangan dan mengatakan bahwa mereka ingin merantau. Namun, bukan merantau ke Malaysia sebagai kuli bangunan. akan tetapi merantau ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan, kemudian kembali lagi ke Bawean.

Di akhir acara, beberapa dosen diberi kesempatan untuk memberikan komentar. mereka semua memberikan komentar positif, bahwa diaspora Bawean merupakan fenomena budaya yang cukup unik dan menarik untuk diangkat dalam kajian-kajian multidisipliner.


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook